/ Home / Regional NTT / Tirosa /
Kondisi Jalan Menuju Gunung Mutis Memprihatinkan
Minggu, 14 Maret 2010 | 20:33 WIB

Jalan beraspal mulus hanya dapat dinikmati dari SoE, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), sekitar 110 km timur Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menuju Kapan, ibu kota Kecamatan Molo Utara sejauh sekitar 20 km.
   
Demikian rekam jejak kondisi Cagar Alam Mutis yang berhasil dihimpun ANTARA dan Kompas dalam melakukan perjalanan jurnalistik ke kawasan Cagar Alam Mutis, sekitar 45 km barat SoE, ibu kota Kabupaten TTS selama Sabtu (13/3) dan Minggu (14/3).
   
Akibat buruknya badan jalan tersebut, keindahan alam dalam kawasan Cagar Alam Mutis seluas sekitar 12.000 hektare itu, tak pernah dikunjungi wisatawan dan hasil pertanian rakyat seperti bawang merah, bawang bombai, bawang putih, wortel, kentang dan kacang-kacangan sulit dipasarkan.
   
"Para petani kami disini menjual semua hasil pertanian dengan amat sangat murah kepada para cukong yang datang dari Kupang. Untuk menjual hasil pertanian ke Kupang, kami harus menyewa truk berkisar antara Rp1 juta sampai Rp2 juta," kata Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Nenas El Panie kepada ANTARA dan Kompas di Desa Nenas, Sabtu (13/3) malam.
   
Desa Nenas adalah salah satu dari tiga wilayah kantung (enclave) dalam kawasan Cagar Alam Mutis di wilayah Kecamatan Fatumnasi. Masyarakat di desa-desa tersebut diperbolehkan untuk mengolah lahan pertanian dalam kawasan Cagar Alam Mutis oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTT.
   
"Mereka diperbolehkan untuk bercocok tanam tetapi tidak diperbolehkan untuk memotong kayu atau menebang pohon dalam kawasan Cagar Alam Mutis," kata Kepala Balai Besar BKSDA NTT Kemal Amas yang dikonfirmasi secara terpisah.
   
Menurut El Panie, pihaknya sudah membuat aturan desa bagi warga Desa Nenas untuk tidak boleh memotong kayu dalam kawasan Cagar Alam Mutis, baik pohon besar maupun kecil serta pohon yang sudah mati dengan alasan untuk kebutuhan kayu api sekalipun.
   
"Jika ketahuan ada warga yang melakukan tindakan demikian, akan dikenakan denda sebesar Rp1 juta. Demikian pun halnya dengan warga yang mengambil udang dalam kali yang menjadi sumber air kehidupan masyarakat," katanya.
   
Menurut Arktusan Taklale (40), salah seorang petani dalam kawasan Cagar Alam Mutis, mereka biasanya menjual bawang bombai kepada para cukong dari Kupang dengan harga Rp2.500/ikat, karena tak sanggup membayar truk untuk memasarkan hasil pertanian mereka ke Kupang.
   
Bawang Bombai di pasaran Kupang biasanya dijual dengan harga Rp2.000/biji atau sekitar Rp30.000/kg, bawang merah Rp15.000/kg dan bawang putih sekitar Rp20.000/kg.
   
Jalan buruk
Menurut Kepala Desa Nenas, Uria Kore, wilayah Kecamatan Fatumnasi merupakan salah satu daerah lumbung pangan selain objek wisata alam di Kabupaten Timor Tengah Selatan, namun sarana dan prasarana jalan sungguh sangat buruk sehingga menyulitkan para petani untuk memasarkan hasil pertaniannya dengan baik.
   
"Jalan dari Kapan ke kawasan Cagar Alam Mutis sepanjang sekitar 25 km, diaspal pada jaman pemerintahan Bupati Timor Tengah Selatan Piet Alexander Tallo (alm)  periode kedua antara 1988-1993. Hingga kini kondisinya rusak parah," katanya.
   
Menurut dia, ketika kondisi jalan masih beraspal mulus, ada sekelompok pengusaha dari Kupang dengan membawa sekitar 30 kendaraan, berkemah di bawah kaki Gunung Mutis untuk menikmati udara alam di kawasan tersebut.
   
"Ketika badan jalan sudah mulai memburuk, hampir tak ada lagi yang berkunjung ke Mutis yang memiliki obyek wisata alam pegunungan yang memikat itu," katanya dan menambahkan wilayah Mutis berada pada ketinggian sekitar 2.427 meter dari permukaan laut.
   
Ia mengatakan, ketika Gubernur NTT Frans Lebu Raya berkunjung ke Desa Nenas beberapa waktu lalu, persoalan buruknya ruas jalan dari Kapan menuju Cagar Alam Mutis sudah disampaikan, namun hingga kini belum juga ada realisasinya.
   
"Setiap tahun berlangsungnya musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan di SoE, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan, masalah buruknya badan jalan tersebut selalu kami angkat. Namun tidak ada tanggapan hingga kini," kata Uria Kore yang dibenarkan pula oleh Panie.
   
"Jika ruas jalan dari Kapan menuju Cagar Alam Mutis diperbaiki atau mendapat sentuhan aspal, kami optimis banyak wisatawan akan berkunjung ke Mutis untuk menikmati udara pegunungan serta para petani pun dapat memasarkan hasil pertaniannya dengan baik," kata Panie. (antara)

Dibaca 174 kali  |  Dikomentari 0 kali
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Wisuda UKAW Kupang
Galeri POS KUPANG
Wisuda UKAW Kupang
more on galeri foto
Kamis, 9 September 2010 | 13:34 WIB
Rabu, 8 September 2010 | 11:03 WIB
Senin, 6 September 2010 | 09:51 WIB
Senin, 6 September 2010 | 09:37 WIB
Minggu, 5 September 2010 | 17:11 WIB