• POS KUPANG.Com
  • POS KUPANG SPORT
  • SPIRIT NTT
  • TEENAGERS SPACE
  • Home
  • POS KUPANG NEWS
    • Kupang Watch
    • Kupang Plus
    • Kupang Crime
    • Polkam
    • Pro BISNIS
    • Nasional
    • Internasional
  • EDITORIAL
    • Kampungku
    • Salam
    • Beranda Kita
    • Opini
    • Tapaleuk
    • Pojok
  • REGIONAL NTT
    • Humaniora
    • Humbalorata
    • Flobamorata
    • Tirosa
    • Floresa
  • POS KUPANG MINGGU
    • Jendela Hati
    • Parodi Situasi
    • Puisi
    • Cerpen
    • Bianglala
    • Tamu Kita
    • Keluarga
    • Gaul
    • Bumi Kita
    • Community
    • Cerita Anak
  • LIFE STYLE
    • Buah Bibir
    • Cakrawala
    • Gossipi
  • Surat Pembaca
  • Blog
  • Archive
Google
/ Home / EDITORIAL / Beranda Kita
Beranda Kita
PER(a)S
Oleh Dion DB Putra
Dok Pos Kupang

Dion DB Putra
Senin, 8 Februari 2010 | 12:44 WITA

PENAMPILAN lima sekawan, Kamson, Sandi, Dimas, Harjunero dan Kusuma sungguh meyakinkan. Cara berbusana, potongan rambut serta cara mereka bicara tidak secuil pun memancing rasa curiga. Apalagi lawan bicara lima sekawan yang berkeliling ke mana-mana dengan mobil itu adalah para pemilik kios yang pendidikannya pas-pasan saja.

 

 

 

Kepada pemilik kios yang menjual pupuk bersubsidi, Kamson Cs memperkenalkan diri dengan santun sebagai tim pengawas pupuk yang anggotanya terdiri dari polisi, pengawas pupuk, wartawan serta penyidik pegawai negeri sipil (PPNS). Menghadapi tim lengkap ini para pemilik kios melayani mereka dengan baik.

Lima sekawan menanyakan omset penjualan pupuk kepada petani, respons dari para petani serta kendala yang dihadapi pemilik kios dalam memasarkan pupuk. Pemilik kios dengan senang hati memberikan jawaban.

Tim Kamson juga berperan sebagai konsultan, memberikan tips-tips agar penjualan pupuk sesuai target. Pada akhir pertemuan, tim memohon pengertian pemilik kios agar memberikan semacam uang bensin (ongkos transport) mengingat mereka masih meneruskan perjalanan ke lokasi lain.

Begitulah yang terjadi. Tim pengawas ini berkeliling dari satu kios ke kios yang lain. Jika menghadapi pemilik kios yang enggan memberi uang transport, anggota tim dari kepolisian mulai berperan. Dia bertutur dengan nada suara tinggi agar pemilik kios "cepat mengerti". Maka orang-orang kecil seperti Abdurohman, Yahya, Rasina, Hafifi, Satibi dan Badrojen pun menyerahkan uang dalam jumlah bervariasi, mulai dari Rp 300 ribu sampai satu setengah juta rupiah.

Tim pengawas terus bergerilya. Sedikitnya 20 pemilik kios yang berhasil mereka garap. Tak puas dengan pemilik kios, mereka menemui distributor pupuk. Di sinilah akhir perjalanan lima sekawan. Distributor pupuk tahu kedok mereka, sekelompok wartawan yang mengaku polisi, pengawas pupuk dan PPNS. Informasi cepat bergulir sampai ke kuping polisi. Tak butuh waktu lama, lima sekawan dibekuk aparat Kepolisian Serang, Banten ketika mereka parkir mobil di Mal Serang, 30 Januari 2010 lalu. Kini mereka diproses hukum untuk tindak pidana pemerasan.

Sekelumit kisah di atas bukan rekaan. Itu fakta! Fakta memilukan dimana warga masyarakat menjadi korban pemerasan oleh oknum wartawan. Wartawan yang seharusnya melindungi dan membela kepentingan publik justru mengkhianati etika profesinya yang luhur. Tidak heran bila sebagian anggota masyarakat memandang rendah profesi kewartawanan. Mereka menganggap pekerja media tidak lebih dari pemeras berjubah wartawan! Preman bermodalkan kartu pers untuk mengancam dan meminta uang secara tak patut. Pers = PERaS. Memalukan!

Di Kediri tahun lalu seorang pemimpin redaksi dihukum karena meneror dan memeras orang yang sedang bermasalah dalam kasus moral dan hukum. Sebelum dibekuk polisi, dia sempat masuk DPO (daftar pencarian orang) selama enam bulan. Kasus pemerasan oleh oknum wartawan juga terjadi di Tolitoli, Sulawesi Tengah, Medan, Sumatera Utara serta kota-kota lainnya di Tanah Air.

Bagaimana di beranda Flobamora? Beta sungguh tak memiliki data valid, tetapi sulit untuk mengatakan tidak mungkin. Rumor pemerasan, baik secara halus maupun dengan teror atau ancaman berembus jua di tanah ini. Mungkin tuan dan puan yang merasa diperas belum berani melaporkan kepada pihak berwenang. Jikalau tuan mendambakan pers berkualitas, mestinya jangan takut bersaksi. Toh insan pers bukan komunitas kebal hukum.

 

***

SELASA,

Pada puncak acara HPN tahun ini para pemimpin perusahaan pers nasional akan meratifikasi Piagam Palembang yang berisi kesepakatan menerapkan empat produk Dewan Pers, yakni standar kompetensi wartawan, standar perusahaan pers, standar kode etik jurnalistik dan standar perlindungan profesi wartawan. Empat produk itu merupakan kabar gembira. Tonggak baru dalam sejarah pers nasional yang lebih menjamin kemerdekaan pers untuk kepentingan seluruh rakyat negeri ini.

Poin penting adalah standar kompetensi wartawan. Inilah pertama kali profesi kewartawanan di Indonesia memiliki standar kompetensi yang jelas dan mengikat. Standar kompetensi itu merupakan hasil kerja bareng suatu tim yang melibatkan pemilik perusahaan pers, wartawan senior, akademisi, organisasi profesi wartawan meliputi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), serta organisasi perusahaan pers seperti Asosiasi Televisi Seluruh Indonesia (ATVSI), Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI), Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) dan Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI).

Standar kompetensi wartawan memudahkan perusahaan pers, organisasi wartawan, dan masyarakat umum secara bersama terus berusaha meningkatkan profesionalitas pers. Dengan standar terukur, tuan dan puan dapat menilai wartawan mana yang kompeten dan tidak kompeten.

Standar itu memberikan ruang kepada siapapun boleh menjadi wartawan, namun harus memiliki kompetensi karena mengatur elemen, kualifikasi dan jenjang karier fungsional wartawan. Standar kompetensi mensyaratkan setiap jenjang karier kewartawanan mesti terukur dan teruji disertai bukti-bukti. Kompetensi membutuhkan assessment! Ujungnya tentu sertifikasi yang menyatakan si Bega atau si Bego memang wartawan. Sedangkan si Tukanaka atau si Lakomosa tidak.

Hari ini preman, besok sudah menjadi pemimpin redaksi. Kemarin kontraktor, hari ini mendirikan media dan dengan bangga klaim diri sebagai jurnalis. Besok mungkin tak semudah itu lagi. Tuan akan diuji dengan standar kompetensi, termasuk perusahaan pers yang tuan dan puan bangun.

Tanggal 9 Februari selalu mengharubiru. Selalu ada yang menganggu kalbu. Tanya dan gugat diri, siapakah beta ini? Menjadikan wartawan sebagai way of life ataukah sekadar pekerjaan? Jelang duapuluh tahun mengabdi sebagai jurnalis. Bangga?

Ah, ternyata diriku belum apa-apa. Keterbatasan segunung, kekurangan masih berkarung-karung. Maaf atas salah kata dan tindak. Izinkan beta untuk belajar dan terus belajar menjadi wartawan. Dirgahayu pers nasional! (dionbata@yahoo.com)

9 Februari 2010 masyarakat pers akan memperingati Hari Pers Nasional (HPN). Peringatan secara nasional berlangsung di Palembang, ibu kota Sumatera Selatan akan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono serta pimpinan media massa cetak dan elektronik dari seluruh Indonesia.

 

Share on Facebook    Share on Twitter
Print Email

KOMENTAR

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.

Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
  • Berita Terkini
  • Terpopuler

  • PDIP Resmi Dukung Manggana-Krispraing
  • Alor Bakal Punya PLTU
  • 1.787 Mahasiswa Undana Ikut Pembekalan KKN
  • P2TP2A Propinsi NTT Dikukuhkan
  • Alumni Menwa Jaga Persatuan
  • Koalisi Lima Parpol Bertekat Menangkan Credo
  • Diduga Korupsi, Jaksa Sita 18 Dokumen Beras ..
  • Mei, PLTU Mataloko Mulai Beroperasi
  • Masyarakat Amabi Oefeto Butuh Jalan Aspal
  • Sepakbola Indonesia Kian Memalukan
  • Mantan Dirut Bank Century Diperiksa KPK
  • RI-Australia Sepakat Tingkatkan Kerjasama ..
  • SBY Lakukan Pertemuan Dengan PM Rudd
  • Disperindag NTT Gelar Rapat Kerja
  • Rusuh Penjara Tewaskan Lima Napi
  • 214 Mahasiswa Unipa Masuk Kampung
  • Perempuan Bunuh Diri di Pasar Maumere
  • Presiden Terima Penghargaan Sipil Tertinggi
  • Fiorentina Balik ke Serie A dengan Positif
  • Polri Gelar Latihan Anti Teror
  • Asuhan Bayi Baru Lahir dan Inisiasi Menyusui Dini
  • Foto Topless Britney Spears
  • Habibie Pernah Bilang Soeharto Kurang Ajar
  • Harga Tiket Pesawat Dari dan Ke NTT Naik
  • Pramugari Telanjang Demi Keselamatan Penumpang
  • Siapa Mau Lamar Wanita Kaya Raya Ini?
  • Perempuan Perkosa 10 Pria
  • Apa Masalahnya kalau Istri Boediono Katolik?
  • Tunjangan Sertifikasi Guru Direalisasikan Awal Juli
  • Pengumuman UN SMA/SMK Ditunda
  • Erni Manuk Jadi Tersangka
  • Seranjang dengan Pacar Sejak Usia 11 Tahun
  • Obama Tepuk Lalat, SBY Nyemprot
  • Langkah Jitu Perkasa di Ranjang
  • Erni Manuk Ditangkap
  • 11.344 Siswa SMA NTT Tidak Lulus UN
  • Tiap Tahun 700.000 Remaja Lakukan Aborsi
  • Hentikan Kematian Ibu Bersalin dan Bayi di NTT
  • Bendahara KPUD Kupang Dipergok Berselingkuh
  • Tidak Heran SMA Mercusuar Lulus 100 Persen
Kanal: KOMPAS.com KOMPASbola KOMPASentertainment KOMPAStekno KOMPAStekno KOMPAScetak KOMPASforum Community KOMPASimages KOMPAStv
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
| About POS KUPANG | Pasang Iklan | Berlangganan |Privacy policy | Terms of use | Site Map | Contact Us | Statistik

©2010 POS KUPANG ONLINE — All rights reserved