• POS KUPANG.Com
  • POS KUPANG SPORT
  • SPIRIT NTT
  • TEENAGERS SPACE
  • Home
  • POS KUPANG NEWS
    • Kupang Watch
    • Kupang Plus
    • Kupang Crime
    • Polkam
    • Pro BISNIS
    • Nasional
    • Internasional
  • EDITORIAL
    • Kampungku
    • Salam
    • Beranda Kita
    • Opini
    • Tapaleuk
    • Pojok
  • REGIONAL NTT
    • Humaniora
    • Humbalorata
    • Flobamorata
    • Tirosa
    • Floresa
  • POS KUPANG MINGGU
    • Jendela Hati
    • Parodi Situasi
    • Puisi
    • Cerpen
    • Bianglala
    • Tamu Kita
    • Keluarga
    • Gaul
    • Bumi Kita
    • Community
    • Cerita Anak
  • LIFE STYLE
    • Buah Bibir
    • Cakrawala
    • Gossipi
  • Surat Pembaca
  • Blog
  • Archive
Google
/ Home / POS KUPANG MINGGU / Tamu Kita
Tamu Kita
Gatot Soebiantoro : Kenal Kelimutu seperti Rumah Sendiri
POS KUPANG/Romualdus Pius

Gatot Soebiantoro
Minggu, 7 Februari 2010 | 23:17 WITA

NAMA Danau Kelimutu tidak terlalu asing lagi di telinga para pelancong. Namanya tenar hingga ke seluruh dunia. Bahkan pernah masuk dalam Tujuh Keajaiban Dunia.


Betapa penting dan berharganya Danau Kelimutu hingga pemerintah pusat menjadikannya sebagai Taman Nasional. Itu artinya, nyaris semua urusan terkait Danau Kelimutu berada di tangan pusat. Sosok yang paling bertanggung jawab atas nasib Danau Kelimutu, dari periode ke periode adalah Kepala Taman Nasional Kelimutu.

Seperti apa urusan dan nasib Danau Kelimutu saat ini? Ikuti perbincangan Pos Kupang dengan Kepala Taman Nasional Kelimutu,  Gatot Soebiantoro.
 
Ketika pertama kali mengetahui akan bertugas di Flores, apa yang Anda pikirkan?
Saya tidak pernah membayangkan ditugaskan di Flores. Namun  saya sudah biasa bekerja di daerah (lapangan), jadi tidak terlalu khawatir dan hanya beripikir saya harus bisa. Saya hanya berpegang peribahasa yang sudah biasa kita ketahui sejak sekolah  "Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung." Saya yakin tidak ada masalah bagi saya.

Apa pernah tahu tentang Flores, khususnya Ende?
Saya tahu Pulau Flores dan Kabupaten Ende, tapi itu sebatas dari ilmu pengetahuan umum yang saya dapat dari sekolah atau informasi lain. Saya belum pernah ke Nusa Tenggara Timur, apalagi  ke Pulau Flores, bahkan Kabupaten Ende. Yang saya tahu Ende tempat bersejarah di mana tempat Presiden RI I sebelumnya pernah diasingkan.

Apa yang Anda lakukan ketika pertama kali dipercaya menjadi Kepala TNK (Taman Nasional Kelimutu)?
Taman Nasional Kelimutu merupakan instansi vertikal di bawah Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan. Jadi sebagai perwakilan pusat, maka yang harus ditempuh adalah pertama, membangun komunikasi yang lebih baik dengan pemerintah daerah setempat. Walaupun Taman Nasional mempunyai otonomi sendiri, tetapi dalam konteks pembangunan suatu daerah, juga merupakan bagian dari pemerintah daerah. Pada sisi ini kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah disinkronkan dengan tetap berpegang pada peraturan perundangan yang berlaku.

Kedua, secara bersamaan dan bertahap melakukan identifikasi tugas dan tanggung jawab yang masih menjadi beban sebelumnya dan perlu segera diselesaikan, memperbaiki yang memang perlu diperbaiki. Juga yang paling penting adalah penguasaan kawasan, dalam artian harus tahu semua tentang kawasan taman nasional, mulai dari batas sampai dengan potensi kawasan. Ini sangat penting. Kalau dianalogkan, kawasan Taman Nasional Kelimutu adalah  rumah tempat bekerja. Sangatlah memalukan jika orang mempunyai rumah tetapi tidak tahu mana pintunya, isi dalamnya apa dan lain sebagainya.

Ini yang saya pacu di tahun-tahun pertama saya kerja di Taman Nasional Kelimutu. Baru setelah kita tahu apa isi dan masalah yang sebenarnya terus mau diapakan kawasan konservasi yang luar biasa ini dan telah dikenal masyarakat banyak. Bukan hanya Ende, Flores ataupun Indonesia, tetapi mendunia, dikelola untuk menuju manfaat yang lebih baik tanpa mengganggu kelestariannya.

Apa yang Anda lakukan dalam membenahi Taman Nasional Kelimutu?
Banyak hal. Penguasaan potensi tidak bisa sekaligus, perlu setidaknya 2 sampai  3 tahun walaupun Taman Nasional ini paling kecil (5.356,5 ha) luasnya di antara 50 taman nasional lainnya di Indonesia. Saat ini menginjak tahun ketiga kami melakukan eksplorasi dengan LIPI Botani Bogor dengan  geoteknologi dan lembaga perguruan tinggi mulai UNFLOR, UGM, serta secara individu dengan Universitas Mataram, dan lainnya. Pengelolaan habitat sekaligus sebagai atraksi wisata baru seperti areal feeding ground,  arboretum (koleksi tanaman Kelimutu), sebagai laboratorium alam yang dilengkapi dengan herbarium-insectarium yang kami namai Herbarium Floresiensis serta sarana pendukung kegiatan pendidikan alam. Sarana pendukung seperti papan informasi yang diisi dengan cerita singkat tentang kawasan dan sasaran obyek. Publikasi tentang Taman Nsional Kelimutu secara utuh bukan hanya Danau Kelimutu. Termasuk kegiatan yang semakin melibatkan peran masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan Kelimutu.

Selama ini bayangan orang tentang Kelimutu hanyalah Danau Kelimutu, padahal ada Taman Nasional. Bagaimana langkah yang dilakukan untuk mengubah pandangan tersebut?
Benar. Sebelumnya orang hanya tahu Danau Kelimutu yang unik dan indah. Dengan kemasan yang dipadukan sebagai salah satu daerah tujuan wisata unggulan ini secara bertahap dengan publikasi yang menampilkan Kelimutu dengan segala potensinya yang telah tergali berupa flora fauna dan kegiatan adat budaya di dalamnya, orang mulai mengenal Kelimutu sebagai Taman Nasional dengan sentral kunjungan berakhir di Danau Kelimutu.

Apa saja keunggulan Taman Nasional Kelimutu dalam arti keunikan Taman Nasional?
Saat ini Danau Kelimutu yang setiap saat berubah warna tetap sebagai daya tarik wisata yang paling unik dan menarik untuk dikunjungi. Setelah itu orang mulai bergeser melihat atraksi memberi makan fauna kera ekor panjang, insectarium yang mengoleksi serangga dalam kawasan Kelimutu dan arboretum yang merupakan koleksi tanaman Kelimutu.

Bagaimana pendekatan yang dilakukan kepada masyarakat di sekitarnya agar mereka merasa menjadi bagian dari Taman Nasional Kelimutu?
Dalam konteks pemanfaatan yang lestari, salah satu fungsi Taman Nasional adalah penunjang pendidikan, sosial masyarakat dan pendukung wisata untuk kesejahteraan masyarakat sekitar. Melalui program pemberdayaan masyarakat dengan berbagai aktivitasnya telah mendorong masyarakat itu sendiri sebagai pelakunya. Keterkaitan yang erat masyarakat sekitar kawasan dengan keberadaan Kelimutu sebagai awal yang paling baik untuk berinteraksi dengan masyarakat. Tokoh masyarakat, pemangku adat, perangkat desa, kecamatan dan stakeholder lainnya kita ajak bicara bersama bagaimana melestarikan kawasan konservasi dan memanfaatkannya tanpa harus mengganggu. Sebenarnya tidak sulit, tapi perlu waktu luang yang banyak. Prinsipnya, dalam kerja sama khan saling percaya, saling menghormati, dan saling menguntungkan. Sepanjang kita tidak bisa menghormati orang lain, jangan harap kerja sama bisa berjalan dengan baik.

Tahun lalu sempat dilakukan acara memberi makan kepada leluhur. Bisa ceritakan apa latar belakang dan tujuan dari acara tersebut?
Sebenarnya ide ini muncul ketika kami melihat upacara di desa-desa sekitar kawasan. Wah, kok sangat erat  dengan keberadaan Kelimutu. Saya lihat ada beberapa anggota adat saling lempar tanggung jawab tentang ritual adat tertentu yang seharusnya siapa yang melaksanakan. Saya mempunyai pikiran, ini kalau dibiarkan generasi penerus adat budaya lokal akan dengan cepat punah. Kami sampaikan ke Disbudpar Kabupaten Ende secara bersama-sama bagaimana kalau kita adakan even tahunan terkait dengan sebagian upacara adat yang terkait dengan Danau Kelimutu. Intinya kesepakatan kebersamaan pada awalnya dan pada tahap selanjutnya pada even tersebut ada aktivitas pembinaan ritual adat kepada generasi mudanya. Sisi lain pada dasarnya setiap persekutuan adat sangat berkepentingan dengan kawasan, di mana kawasan tersebut adalah terkait dengan upacara untuk menghormati leluhur, secara tidak langsung kesepakatan-kesepakatan yang dibangun sekaligus termasuk menjaga kawasan karena tidak ingin mengganggu areal yang dipercayai sebagai bagian untuk melaksanakan upacara adat lokal.

Apakah ada rencana melakukan hal serupa di waktu mendatang?
Ya. Kegiatan ini disepakati menjadi even tahunan. Kami harap semakin baik dalam penyelenggaraannya dan juga muatan pembinaan adat budaya, sekaligus sasaran agenda kunjungan wisata. Kegiatan ini sudah dievaluasi bersama antara perwakilan pemangku adat, pemerintah daerah yang dalam hal ini diwakili Dinas Kebudayaan dan Pariwasata Kabupaten Ende serta kepala desa dan camat sekitar kawasan Taman Nasional Kelimutu serta pihak Taman Nasional Kelimutu.

Langkah-langkah apa yang dilakukan agar Taman Nasional Kelimutu dikunjungi dan menjadi obyek wisata andalan?
Taman Nasional Kelimutu dengan menyandang ikon masyarakat Ende bukan hanya menjadi andalan Kabupaten Ende untuk wisata,  tetapi juga  menjadi andalan Nusa Tenggara Timur. Saat ini telah ditetapkan sebagai salah satu destinasi unggulan di samping Taman Nasional Komodo oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.  Banyak yang harus dibenahi. Sarana dan prasarana, termasuk di dalamnya aksesibilitas : transportasi, jalan, layanan komunikasi/warnet,  pelayanan/services bukan hanya personil taman nasional, tetapi juga yang di luar taman nasional (termasuk guide yang handal, travel agent lokal, dan juga diharapkan setiap masyarakat tahu tentang wisata minimal tentang Kelimutu itu sendiri), atraksi wisata lain tidak hanya Danau Kelimutu, promosi melalui website, leaflet, pameran, travel agent. Penyebaran informasi melalui travel agent cukup banyak diantaranya di beberapa travel agent di Bali, Makasar, Yogya dan Surabaya serta Jakarta.
          
Apa ancaman nyata yang dihadapi oleh Taman Nasional Kelimutu saat ini? Langkah apa yang dilakukan untuk menanggulangi ancaman tersebut?
Ancaman nyata saat ini bisa dikatakan hampir tidak ada. Tetapi ada ancaman potensial untuk masa datang. Misalnya lahan semakin sempit, sementara jumlah anggota keluarga/penduduk bertambah terus, ketersediaan kayu adat yang semakin sedikit, jumlah pengunjung yang semakin meningkat. Saat ini tidak terasa, tetapi tanpa penanganan yang tepat akan mengganggu kelestaraian. Untuk lahan sempit dan keterbatasan kayu adat secara bertahap kita berbicara dengan masyarakat, bisa individu bisa kelompok dan juga dengan masyarakat adat. Kami sampaikan seperti penyuluhan dan utamanya adalah jalan keluarnya, bukan bicara. Seperti mungkinkah ada kesepakatan-kesepakatan adat dengan ritual khusus jika kayu adat sudah hampir punah, tetapi sampai saat ini tidak ada budidaya dari masyarakat adat mengenai kebutuhan kayu. Sudah beberapa desa memulai dengan membangun hutan adat, tapi belum semuanya. Untuk kunjungan yang meningkat tajam dari tahun ke tahun, ya, kita upayakan alternatif tujuan wisata baru selain kawasan Moni.

Ada berapa jenis Flora Fauna dan biota yang ada di Taman Nasional  Kelimutu?
Hasil inventarisasi flora pohon oleh BTN Kelimutu dan LIPI (2007-2008) diketahui bahwa terdapat 100 jenis pohon yang terkelompok dalam 41 suku. Suku yang memiliki jenis terbanyak adalah euphorbiaceae berjumlah 12 jenis, moraceae berjumlah 8 jenis, lauraceae berjumlah 7 jenis, fabaceae dan myrtaceae masing-masing berjumlah 6 jenis, meliaceae dan sapindaceae masing-masing berjumlah 5 jenis, arecaceae berjumlah 4 jenis, actinidiaceae  dan ulmaceae masing-masing berjumlah 3 jenis, podocarpaceae, rutaceae, myrsinaceae, melastomataceae, ericaceae, rubiaceae, theaceae, apocynaceae, araliaceae dan elaeocarpaceae masing-masing berjumlah 2 jenis dan 21 suku yang lain masing-masing memiliki 1 jenis.

Kenapa Danau Kelimutu kerap berubah warna?
Tiga danau dengan warna berbeda di Kelimutu merupakan fenomena unik yang menjadi perhatian dunia. Perbedaan ketiga warna menurut ahli geologi (LIPI Bandung) terjadi karena adanya beberapa senyawa kimia bereaksi. Kawah Tiwu Nua Muri Koo Fai berwarna hijau muda karena ion Fe2+ yang bereaksi dengan sulfat (SO4 2-) membentuk endapan ferosulfat (Fe SO4). Kawah Tiwu Atapolo berwarna coklat kemerahan karena dari Fe3+ membentuk senyawa feri hidroksida (Fe(OH)3) berupa koloid di dalam air kawah (bukan di permukaan air kawah) dan residu di dasar kawah. Sedangkan Kawah Tiwu Ata Mbupu berwarna hijau tua kehitaman diduga merupakan refleksi warna tumbuh-tumbuhan/cemara gunung yang banyak ditemukan di sekitar bibir kawah. Di saat tertentu warna akan berubah menjadi coklat kemerahan, sebagaimana warna daun kering cemara gunung yang mengapung di permukaan kawah. Pada prinsipnya perubahan warna di ketiga kawah disebabkan karena aktivitas vulkanologi yang terjadi di dalamnya. (romualdus pius)

    

Terbiasa Tinggalkan Keluarga


KETIKA  pertama kali bertugas di Kabupaten Ende sebagai Kepala Taman Nasional Kelimutu, Gatot Soebiantoro harus meninggalkan keluarganya di Jakarta. Bahkan hingga kini keluarganya pun tidak diboyong ke Ende. Hal tersebut tidak membuat keluarganya risau karena mereka telah terbiasa dengan kondisi tersebut.
Sebelum  bertugas di Ende, Gator telah bertugas di beberapa tempat kerja, dan keluarganya pun tidak dibawa. "Istri saya di Jakarta dan anak-anak ada yang di Semarang dan Bogor. Namun mereka tidak pernah mempersoalkan tentang keberadaan saya di Ende karena mereka tahu dan menyadari bahwa itulah konsekuensi logis dari pekerjaan yang saya emban," ujarnya.
Harus meninggalkan keluarga dalam waktu yang relatif lama, bukan berarti bahwa perhatian Gatot pada keluarganya berkurang. Justru sebaliknya dia tetap memberikan kasih sayang kepada keluarganya. Makanya setiap kali liburan atau mendapatkan tugas ke Jakarta dia meluangkan waktu untuk mengunjungi keluarganya. Atau kalau memang dia berhalangan maka keluarganya yang datang ke Ende.
Diakuinya, pada waktu-waktu awal dia sempat mendapat protes dari anak-anak, namun ketika dijelaskan mereka pun paham. Sedangkan sang istri, Ir. Ari Sri Lestari, juga telah terbiasa semenjak mereka nikah. Tentu bukan satu kesengajaan dia harus meninggalkan keluarga, terutama sang istri karena Ny Ari Sri Lestari juga bekerja Kantor Planologi Kehutanan Bogor yang sudah tentu tidak bisa meninggalkan tugasnya. (rom)

Share on Facebook    Share on Twitter
Print Email

KOMENTAR

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.

Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
  • Berita Terkini
  • Terpopuler

  • Polres Sikka Gantung Tiga Kasus Korupsi
  • Komunitas YSAI UPN Jogya Tanam Pohon Cemara
  • Mahasiswa HI-FISIP UPN Jogya gelar Diskusi ..
  • Dua terdakwa Pembunuh Rm Fautinus, Tunggu ..
  • APIK Pertanyakan Batas Hutan Lindung Oelbesak
  • Camat Perlu Mendapat Pembinaan
  • Son Pake Helm...
  • Warga Belo Minta Bangun Poskamling
  • Keracunan Ikan, 3 Tewas
  • APTI NTT Gelar Talk Show
  • BP Pemuda GMIT Horeb Gelar Lomba CCA
  • Cagar Alam Hutan Mutis Mulai Terancam
  • Gerson Yonathan Thonak, Jadi PNS Terlalu ..
  • Meriah, Konser Ruth Sahanaya
  • ChildFund Hijaukan Tiga Mata Air di Flores ..
  • Messi Dipuji Kawan dan Lawan
  • 13 Parpol Daftarkan Venus di KPUD Ngada
  • Kampung
  • Adoe: Kami Tidak Menembak
  • Warga Manulai II Ditikam di Jalur 40
  • Asuhan Bayi Baru Lahir dan Inisiasi Menyusui Dini
  • Foto Topless Britney Spears
  • Habibie Pernah Bilang Soeharto Kurang Ajar
  • Harga Tiket Pesawat Dari dan Ke NTT Naik
  • Pramugari Telanjang Demi Keselamatan Penumpang
  • Siapa Mau Lamar Wanita Kaya Raya Ini?
  • Perempuan Perkosa 10 Pria
  • Apa Masalahnya kalau Istri Boediono Katolik?
  • Tunjangan Sertifikasi Guru Direalisasikan Awal Juli
  • Erni Manuk Jadi Tersangka
  • Pengumuman UN SMA/SMK Ditunda
  • Seranjang dengan Pacar Sejak Usia 11 Tahun
  • Obama Tepuk Lalat, SBY Nyemprot
  • Langkah Jitu Perkasa di Ranjang
  • Erni Manuk Ditangkap
  • 11.344 Siswa SMA NTT Tidak Lulus UN
  • Hentikan Kematian Ibu Bersalin dan Bayi di NTT
  • Tiap Tahun 700.000 Remaja Lakukan Aborsi
  • Bendahara KPUD Kupang Dipergok Berselingkuh
  • Tidak Heran SMA Mercusuar Lulus 100 Persen
Kanal: KOMPAS.com KOMPASbola KOMPASentertainment KOMPAStekno KOMPAStekno KOMPAScetak KOMPASforum Community KOMPASimages KOMPAStv
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
| About POS KUPANG | Pasang Iklan | Berlangganan |Privacy policy | Terms of use | Site Map | Contact Us | Statistik

©2010 POS KUPANG ONLINE — All rights reserved