• POS KUPANG.Com
  • POS KUPANG SPORT
  • SPIRIT NTT
  • TEENAGERS SPACE
  • Home
  • POS KUPANG NEWS
    • Kupang Watch
    • Kupang Plus
    • Kupang Crime
    • Polkam
    • Pro BISNIS
    • Nasional
    • Internasional
  • EDITORIAL
    • Kampungku
    • Salam
    • Beranda Kita
    • Opini
    • Tapaleuk
    • Pojok
  • REGIONAL NTT
    • Humaniora
    • Humbalorata
    • Flobamorata
    • Tirosa
    • Floresa
  • POS KUPANG MINGGU
    • Jendela Hati
    • Parodi Situasi
    • Puisi
    • Cerpen
    • Bianglala
    • Tamu Kita
    • Keluarga
    • Gaul
    • Bumi Kita
    • Community
    • Cerita Anak
  • LIFE STYLE
    • Buah Bibir
    • Cakrawala
    • Gossipi
  • Surat Pembaca
  • Blog
  • Archive
Google
/ Home / EDITORIAL / Salam
Salam
Membangun Jaringan Melalui Asmindo
Sabtu, 6 Februari 2010 | 17:39 WITA

OBSESI dan pikiran ini penting. Setidaknya inilah yang ditunjukkan oleh Ketua Komisariat Daerah (Komda) Asosiasi Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Nusa Tenggara Timur (NTT), Daniel Charlin. Ia mengatakan, dalam masa kepengurusan 2010-2015, asosiasi ini akan fokus mengembangkan industri kerajinan kecil di daerah ini.

Dasar argumennya kuat, yakni bahwa daerah ini  memiliki  sumber daya alam yang memungkinkan. Kita punya tanaman jati berkualitas,  tenunan yang memiliki nilai  eksotik tinggi serta  tanaman bambu  yang tersebar luas di daerah ini.  Bila  sudah ada konsep pengembangan dan didukung oleh  potensi alam, maka  upaya kita sekarang adalah aksi nyata. Tak bisa lagi dengan  jargon atau membuat gagasan tanpa diikuti dengan terobosan di lapangan.  Selama ini sudah banyak konsep yang dilontarkan.

Begitu banyak pikiran tentang bagaimana upaya untuk mengembangkan salah satu sektor riil ini. Pikiran itu tak nyambung memang. Putus  karena semua pihak masih berjalan masing-masing.  Aplikasi masih sangat lemah.

Pikiran yang disampaikan Daniel ini  sebenarnya  mengingatkan kita untuk bangun dari mati suri. Sebagai ketua asosiasi, Daniel ingin  menggugah semua pihak untuk melihat usaha kecil dan menengah, terutama usaha permebelan dan kerajinan.

Melihat di sini lebih pada  upaya pemerintah, Dekranasda dan  perbankan memberi bantuan. Pikiran itu  baik. Punya prospek ke depan. Tentunya pada asosiasi  kita harapkan  melakukan silahturahmi dan pertemuan-pertemuan  dengan  pihak-pihak terkait, seperti  pemerintah daerah/kota, DPRD, Dekranasda dan  perbankan.

Kita harapkan dengan pertemuan itu asosiasi dan pemerintah menyatukan pikiran untuk  membantu pengusaha kecil ini. Tentu yang kita harapkan adalah  kucuran dana agar dapat menjawab berbagai persoalan yang  menjadi  kendala. Instansi  terkait  lainnya yang juga kita harapkan dukungan adalah Dekranasda.  Selama ini Dekranasda yang diketuai ibu gubernur, ibu bupati/walikota punya aktivitas dalam membina dan mengembangkan  kerajinan ini. Nah, di sanalah  Dekranasda dan asosiasi ini mengawinkan pikiran dan program agar searah, sejalan.   

Dengan pertemuan itu kita harapkan instansi teknis  dapat memahami dan melakukan perencanaan-perencanaan, seperti alokasi biaya atau anggaran  untuk dibahas bersama Dewan sebagai pemegang hak  buget.

Pikiran kita adalah  bagaimana menghilangkan  pandangan yang mengetengahkan  pinjaman dari pemerintah seakan gratis. Atau dengan kata lain,  selama ini  banyak masyarakat beranggapan bahwa  bantuan dari pemerintah bukan menjadi kewajiban untuk mengembalikan.

Rasanya kita terlampau keliru bahkan naif  bila masih berpandangan demikian. Dana atau bantuan dari pemerintah harus dikembalikan. Hanya barangkali  perlu dibicarakan lagi  masa pengembalian dan  suku bunga yang meringankan.  
Begitu pula pihak perbankan. Kita harapkan  pengusaha permebelan dan kerajinan diberi kemudahan-kemudahan.  Kemudahan itu seperti  tak memberi agunan. Kita yakin  kelompok ini adalah mereka   yang secara ekonomi  belum kuat. Apa yang mau diagunkan atau menjadi  jaminan?

Dengan dana itu pula  kita menyiapkan sumber daya manusia, managemen serta pemasaran. Para pemuda di daerah ini dapat mengikuti magang kerja di daerah yang sudah maju, seperti di Nusa Tenggara Barat atau daerah-daerah lain di negeri ini yang  sudah  sukses mengekspor kerajinan bambu dan usaha lainnya. Coba kita tengok  manajemen pertenunan. Selama ini masyarakat kita tak geluti secara serius. Tenunan itu dilakukan di sela-sela  kegiatan lain sehingga  tak tuntas dalam  waktu yang singkat. Justru berbulan dan bertahun. Kondisi ini  tentu berpengaruh pada  harga yang terbilang tinggi.

Padahal, bila dilakukan secara serius, maka  tenunan itu bisa tuntas lebih cepat.  Bila demikian maka harga pun tak terlampau mahal dan  ia akan berdampak secara ekonomis. Kaum ibu misalnya, akan memanfaatkan  hasil penjualan  sarung atau  usaha lain  untuk kebutuhan keluarga. Asupan gizi terhadap anak-anak akan lebih baik. Ini merupakan sebuah mata rantai.

Bila sudah ada kemudahan ini, mengapa kita tak memulainya atau meneruskan usaha-usaha yang sudah berjalan ini? Yang  utama saat ini membangun jaringan dengan semua pihak. Saat ini  bukan zamannya lagi kita  sendirian bermain di  era pasar. Saat ini pasar adalah jaringan, networking, akses, lobi-lobi atau  apa pun nama lainnya. *

Share on Facebook    Share on Twitter
Print Email

KOMENTAR

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.

Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
  • Berita Terkini
  • Terpopuler

  • 45 Orang Tewas Dalam Serangan Bom Bunuh Diri ..
  • Mesin Rental Atasi Listrik Jelang Jumat ..
  • Obama Tunda Kunjungan ke Indonesia
  • Prioritas KB Untuk Klinik Swasta dan ..
  • Badai Matahari 2012 Bukan Penyebab Kiamat
  • Mulus Lebihi Syarat Jumlah Kursi DPRD
  • Paket PDIP Manggarai Belum Aman
  • Manggana-Praing Resmi Mendaftar di KPU
  • Rokok Haram, Ribuan Petani Tembakau Kolaps
  • Lamahala-Horowura Kakak-Adik
  • Menyingkap Kasus Judi di Belu (1)
  • SBY Diminta Lebih Aktif Berantas Teroris
  • Polisi Bersenjata Kawal Mangan Ilegal
  • 39 Kios di Pasar Oesao Terbakar
  • Ada Ulama Restui Aksi Teroris
  • Para Atheis Kumpul Bahas Islam dan Terorisme
  • Erni Manuk dan Bambang Dituntut 20 Tahun ..
  • Jaksa Tolak Tangguhkan Penahanan Tersangka
  • Lima Kamar Kos di Kayu Putih Terbakar
  • PDI-P Kehilangan Roh sebagai Partai Rakyat
  • Asuhan Bayi Baru Lahir dan Inisiasi Menyusui Dini
  • Foto Topless Britney Spears
  • Habibie Pernah Bilang Soeharto Kurang Ajar
  • Harga Tiket Pesawat Dari dan Ke NTT Naik
  • Pramugari Telanjang Demi Keselamatan Penumpang
  • Siapa Mau Lamar Wanita Kaya Raya Ini?
  • Perempuan Perkosa 10 Pria
  • Apa Masalahnya kalau Istri Boediono Katolik?
  • Tunjangan Sertifikasi Guru Direalisasikan Awal Juli
  • Erni Manuk Jadi Tersangka
  • Pengumuman UN SMA/SMK Ditunda
  • Seranjang dengan Pacar Sejak Usia 11 Tahun
  • Obama Tepuk Lalat, SBY Nyemprot
  • Langkah Jitu Perkasa di Ranjang
  • Erni Manuk Ditangkap
  • 11.344 Siswa SMA NTT Tidak Lulus UN
  • Hentikan Kematian Ibu Bersalin dan Bayi di NTT
  • Tiap Tahun 700.000 Remaja Lakukan Aborsi
  • Bendahara KPUD Kupang Dipergok Berselingkuh
  • Tidak Heran SMA Mercusuar Lulus 100 Persen
Kanal: KOMPAS.com KOMPASbola KOMPASentertainment KOMPAStekno KOMPAStekno KOMPAScetak KOMPASforum Community KOMPASimages KOMPAStv
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
| About POS KUPANG | Pasang Iklan | Berlangganan |Privacy policy | Terms of use | Site Map | Contact Us | Statistik

©2010 POS KUPANG ONLINE — All rights reserved