/ Home / Editorial / Salam /
tim Editor
Membangun Jaringan Melalui Asmindo
Sabtu, 6 Februari 2010 | 17:39 WIB

Dasar argumennya kuat, yakni bahwa daerah ini  memiliki  sumber daya alam yang memungkinkan. Kita punya tanaman jati berkualitas,  tenunan yang memiliki nilai  eksotik tinggi serta  tanaman bambu  yang tersebar luas di daerah ini.  Bila  sudah ada konsep pengembangan dan didukung oleh  potensi alam, maka  upaya kita sekarang adalah aksi nyata. Tak bisa lagi dengan  jargon atau membuat gagasan tanpa diikuti dengan terobosan di lapangan.  Selama ini sudah banyak konsep yang dilontarkan.

Begitu banyak pikiran tentang bagaimana upaya untuk mengembangkan salah satu sektor riil ini. Pikiran itu tak nyambung memang. Putus  karena semua pihak masih berjalan masing-masing.  Aplikasi masih sangat lemah.

Pikiran yang disampaikan Daniel ini  sebenarnya  mengingatkan kita untuk bangun dari mati suri. Sebagai ketua asosiasi, Daniel ingin  menggugah semua pihak untuk melihat usaha kecil dan menengah, terutama usaha permebelan dan kerajinan.

Melihat di sini lebih pada  upaya pemerintah, Dekranasda dan  perbankan memberi bantuan. Pikiran itu  baik. Punya prospek ke depan. Tentunya pada asosiasi  kita harapkan  melakukan silahturahmi dan pertemuan-pertemuan  dengan  pihak-pihak terkait, seperti  pemerintah daerah/kota, DPRD, Dekranasda dan  perbankan.

Kita harapkan dengan pertemuan itu asosiasi dan pemerintah menyatukan pikiran untuk  membantu pengusaha kecil ini. Tentu yang kita harapkan adalah  kucuran dana agar dapat menjawab berbagai persoalan yang  menjadi  kendala. Instansi  terkait  lainnya yang juga kita harapkan dukungan adalah Dekranasda.  Selama ini Dekranasda yang diketuai ibu gubernur, ibu bupati/walikota punya aktivitas dalam membina dan mengembangkan  kerajinan ini. Nah, di sanalah  Dekranasda dan asosiasi ini mengawinkan pikiran dan program agar searah, sejalan.   

Dengan pertemuan itu kita harapkan instansi teknis  dapat memahami dan melakukan perencanaan-perencanaan, seperti alokasi biaya atau anggaran  untuk dibahas bersama Dewan sebagai pemegang hak  buget.

Pikiran kita adalah  bagaimana menghilangkan  pandangan yang mengetengahkan  pinjaman dari pemerintah seakan gratis. Atau dengan kata lain,  selama ini  banyak masyarakat beranggapan bahwa  bantuan dari pemerintah bukan menjadi kewajiban untuk mengembalikan.

Rasanya kita terlampau keliru bahkan naif  bila masih berpandangan demikian. Dana atau bantuan dari pemerintah harus dikembalikan. Hanya barangkali  perlu dibicarakan lagi  masa pengembalian dan  suku bunga yang meringankan.  
Begitu pula pihak perbankan. Kita harapkan  pengusaha permebelan dan kerajinan diberi kemudahan-kemudahan.  Kemudahan itu seperti  tak memberi agunan. Kita yakin  kelompok ini adalah mereka   yang secara ekonomi  belum kuat. Apa yang mau diagunkan atau menjadi  jaminan?

Dengan dana itu pula  kita menyiapkan sumber daya manusia, managemen serta pemasaran. Para pemuda di daerah ini dapat mengikuti magang kerja di daerah yang sudah maju, seperti di Nusa Tenggara Barat atau daerah-daerah lain di negeri ini yang  sudah  sukses mengekspor kerajinan bambu dan usaha lainnya. Coba kita tengok  manajemen pertenunan. Selama ini masyarakat kita tak geluti secara serius. Tenunan itu dilakukan di sela-sela  kegiatan lain sehingga  tak tuntas dalam  waktu yang singkat. Justru berbulan dan bertahun. Kondisi ini  tentu berpengaruh pada  harga yang terbilang tinggi.

Padahal, bila dilakukan secara serius, maka  tenunan itu bisa tuntas lebih cepat.  Bila demikian maka harga pun tak terlampau mahal dan  ia akan berdampak secara ekonomis. Kaum ibu misalnya, akan memanfaatkan  hasil penjualan  sarung atau  usaha lain  untuk kebutuhan keluarga. Asupan gizi terhadap anak-anak akan lebih baik. Ini merupakan sebuah mata rantai.

Bila sudah ada kemudahan ini, mengapa kita tak memulainya atau meneruskan usaha-usaha yang sudah berjalan ini? Yang  utama saat ini membangun jaringan dengan semua pihak. Saat ini  bukan zamannya lagi kita  sendirian bermain di  era pasar. Saat ini pasar adalah jaringan, networking, akses, lobi-lobi atau  apa pun nama lainnya. *

Dibaca 127 kali  |  Dikomentari 0 kali
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Bayi Dimutilasi
Galeri POS KUPANG
Bayi Dimutilasi
more on galeri foto
Jumat, 3 September 2010 | 00:11 WIB
Kamis, 2 September 2010 | 00:02 WIB
Rabu, 1 September 2010 | 00:00 WIB
Selasa, 31 Agustus 2010 | 23:04 WIB
Senin, 30 Agustus 2010 | 15:49 WIB